Larangan Anianya dan Perintah Menolaknya
Larangan Anianya dan Perintah Menolaknya
Disusun Guna Memenuhi Tugas Kuliah
Mata Kuliah: Hadis Tematik
Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag
Dr.
Zuhad Masduq,
M.Ag
Disusun Oleh :
Mohamad Lutfi Hakim
1500018043
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
WALISONGO
SEMARANG
2017
PEMBAHASAN
عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ: يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ. يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ. يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَه.
Artinya: Dari
Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah
berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan (berlaku) zhalim atas
diri-Ku dan Aku menjadikannya di antaramu haram, maka janganlah kamu saling
menzhalimi. Wahai hamba-Ku, kamu semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri
petunjuk, maka hendaklah kamu minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.
Kamu semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka
hendaklah kamu minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku,
kamu semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka
hendaklah kamu minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku,
sesungguhnya kamu melakukan perbuatan dosa di waktu siang dan malam, dan Aku
mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kamu. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kamu
tidak akan dapat membinasakan Aku dan kamu tak akan dapat memberikan manfaat
kepada Aku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir
diantaramu, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang
paling bertaqwa di antaramu, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun, jika
orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, sekalian manusia dan
jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kamu,
tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga. Wahai hamba-Ku, jika
orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, sekalian manusia dan jin
yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh
permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali
sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut. Wahai hamba-Ku,
sesungguhnya itu semua adalah amal perbuatanmu. Aku catat semuanya untukmu,
kemudian Kami membalasnya. Maka siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah
bersyukur kepada Allah dan siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah
sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya
Mutiara Hadits:
- Menegakkan keadilan di antara manusia serta haramnya kezaliman di antara mereka merupakan tujuan dari ajaran Islam yang paling penting.
- Wajib bagi setiap muslim untuk memudahkan jalan petunjuk dan memintanya kepada Allah ta’ala.
- Semua makhluk selalu tergantung kepada Allah dalam mendatangkan kebaikan dan menolak keburukan terhadap dirinya baik dalam perkara dunia maupun akhirat.
- Pentingnya istighfar dari perbuatan dosa dan sesungguhnya Allah ta’ala akan mengampuninya.
- Lemahnya makhluk dan ketidakmampuan mereka dalam mendatangkan kecelakaan dan kemanfaatan, apalagi kepada Allah.
- Wajib bagi setiap mu’min untuk bersyukur kepada Allah ta’ala atas ni’mat dan taufiq-Nya.
- Sesungguhnya Allah ta’ala menghitung semua perbuatan seorang hamba dan membalasnya.
- Dalam hadits terdapat petunjuk untuk mengevaluasi diri (muhasabah) serta penyesalan atas dosa-dosa.
Penjelasan:
Kalimat “Sesungguhnya Aku mengharamkan (berlaku) zalim atas diri-Ku dan
Aku menjadikannya di antaramu haram”, sebagian ulama mengatakan maksudnya ialah
Allah tidak patut dan tidak akan berbuat zhalim seperti tersebut pada firman-Nya:
“Tidak patut bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil anak”. (QS. 19:92)
Jadi, zhalim bagi Allah adalah sesuatu yang mustahil. Sebagian lain
berpendapat, maksudnya ialah seseorang tidak boleh meminta kepada Allah untuk
menghukum musuhnya atas namanya kecuali dalam hal yang benar, seperti tersebut
dalam firman-Nya dalam Hadits di atas: “Sungguh Aku mengharamkan diri-Ku untuk
berbuat zhalim”. Jadi, Allah tidak akan berbuat zhalim kepada hamba-Nya. Oleh
karena itu, bagaimana orang bisa mempunyai anggapan bahwa Allah berbuat zhalim
kepada hamba-hamba-Nya untuk kepentingan tertentu?Begitu pula kalimat
“janganlah kamu saling menzhalimi” maksudnya bahwa janganlah orang yang
dizhalimi membalas orang yang menzhaliminya.Dan kalimat “Wahai hamba-Ku, kamu
semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kamu
minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya”, mengingat betapa kita ini
lemah dan fakir untuk memenuhi kepentingan kita dan untuk melenyapkan
gangguan-gangguan terhadap diri kita kecuali dengan pertolongan Allah semata.
Makna ini berpangkal pada pengertian kalimat: “Tiada daya dan kekuatan kecuali
dengan pertolongan Allah”. (QS. 18: 39)
Hendaklah orang menyadari bila ia melihat adanya nikmat pada dirinya,
maka semua itu dari Allah dan Allah lah yang memberikan kepadanya. Hendaklah ia
juga bersyukur kepada Allah, dan setiap kali nikmat itu bertambah, hendaklah ia
bertambah juga dalam memuji dan bersyukur kepada Allah.Kalimat “maka hendaklah
kamu minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya” yaitu mintalah petunjuk
kepada-Ku, niscaya Aku memberi petunjuk kepadamu. Kalimat ini hendaknya membuat
hamba menyadari bahwa seharusnyalah ia meminta hidayah kepada Tuhannya,
sehingga Dia memberinya hidayah. Sekiranya dia diberi hidayah sebelum meminta,
barangkali dia akan berkata: “Semua yang aku dapat ini adalah karena
pengetahuan yang aku miliki”.
Begitu pula kalimat “kamu semua adalah orang yang lapar, kecuali orang
yang Aku beri makan, maka hendaklah kamu minta makan kepada-Ku, pasti Aku
memberinya”, maksudnya ialah Allah menciptakan semua makhluk-Nya berkebutuhan
kepada makanan, setiap orang yang makan niscaya akan lapar kembali sampai Allah
memberinya makan dengan mendatangkan rezeki kepadanya, menyiapkan alat-alat
yang diperlukannya untuk dapat makan. Oleh karena itu, orang yang kaya jangan
beranggapan bahwa rezeki yang ada di tangannya dan makanan yang disuapkan ke
mulutnya diberikan kepadanya oleh selain Allah. Hadits ini juga mengandung adab
kesopanan berperilaku kepada orang fakir. Seolah-olah Allah berfirman:
“Janganlah kamu meminta makanan kepada selain Aku, karena orang-orang yang kamu
mintai itu mendapatkan makanan dari Aku. Oleh karena itu, hendaklah kamu minta
makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya kepada kamu”. Begitu juga dengan
kalimat selanjutnya.
Kalimat “sesungguhnya kamu melakukan perbuatan dosa di waktu siang dan
malam”. Kalimat semacam ini merupakan nada celaan yang seharusnya setiap mukmin
malu terhadap celaan ini. Demikian pula bahwa sesungguhnya Allah menciptakan
malam sebagai waktu untuk berbuat ketaatan dan menyiapkan diri berbuat ikhlas,
karena pada malam hari itulah pada umumnya orang beramal jauh dari sifat riya’
dan nifaq. Oleh karena itu, tidaklah seorang mukmin merasa malu bila tidak
menggunakan waktu malam hari untuk beramal karena pada waktu tersebut umumnya
orang beramal jauh dari sifat riya’ dan nifaq. Tidaklah pula seorang mukmin
merasa malu bila tidak menggunakan malam dan siang untuk beramal karena kedua
waktu itu diciptakan menjadi saksi bagi manusia sehingga setiap orang yang
berakal sepatutnya taat kepada Allah dan tidak tolong-menolong dalam perbuatan
menyalahi perintah Allah.Bagaimana seorang mukmin patut berbuat dosa
terang-terangan atau tersembunyi padahal Allah telah menyatakan “Aku mengampuni
semua dosa”. Disebutkannya dengan kata “semua dosa” adalah karena hal itu
dinyatakan sebelum adanya perintah kepada kita untuk memohon ampun, agar tidak
seorang pun merasa putus asa dan pengampunan Allah karena dosa yang
dilakukannya sudah banyak. Kalimat “kalau orang-orang terdahulu dan yang
terakhir diantaramu, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti
orang yang paling bertaqwa di antaramu, tidak akan menambah kekuasaan-Ku
sedikit pun” menunjukkan bahwa ketaqwaan seseorang kepada Allah itu adalah rahmat
bagi mereka dan manfaatnya untuk diri mereka sendiri. Hal itu tidak menambah
kekuasaan Allah sedikit pun.
Kalimat “jika
orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, sekalian manusia dan jin
yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh
permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali
sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut”, berisikan peringatan
kepada segenap makhluk agar mereka banyak-banyak meminta dan tidak seorang pun
membatasi dirinya dalam meminta dan tidak seorang pun membatasi dirinya dalam
meminta karena milik Allah tidak akan berkurang sedikit pun, perbendaharaan-Nya
tidak akan habis, sehingga tidak ada seorang pun patut beranggapan bahwa apa
yang ada di sisi Allah menjadi berkurang karena diberikan kepada hamba-Nya,
sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada
hadits lain: “Tangan Allah itu penuh, tidak menjadi berkurang perbendaraan yang
dikeluarkan sepanjang malam dan siang. Tidakkah engkau pikirkan apa yang telah
Allah belanjakan sejak mula mencipta langit dan bumi. Sesungguhnya Allah tidak
pernah kehabisan apa yang ada di tangan kanannya”.
Rahasia dari perkataan ini ialah bahwa kekuasaan-Nya mampu mencipta
selama-lamanya, sama sekali Dia tidak patut disentuh oleh kelemahan dan
kekurangan. Segala kemungkinan senantiasa tidak terbatas atau terhenti. Kalimat
“kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut” ini adalah kalimat
perumpamaan untuk memudahkan memahami persoalan tersebut dengan cara
mengemukakan hal yang dapat kita saksikan dengan nyata. Maksudnya ialah
kekayaan yang ada di tangan Allah itu sedikit pun tidak akan berkurang.
Kalimat
“sesungguhnya itu semua adalah amal perbuatanmu. Aku catat semuanya untukmu,
kemudian Kami membalasnya. Maka siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah
bersyukur kepada Allah” maksudnya janganlah orang beranggapan bahwa ketaatan
dan ibadahnya merupakan hasil usahanya sendiri, tetapi hendaklah ia menyadari
bahwa hal ini merupakan pertolongan dari Allah dan karena itu hendaklah ia
bersyukur kepada Allah.
Kalimat “dan siapa
mendapatkan selain dari itu”. Di sini tidak digunakan kalimat “mendapati
kejahatan (keburukan)”, maksudnya siapa yang menemukan sesuatu yang tidak baik,
maka hendaklah ia mencela dirinya sendiri. Penggunaan kata penegasan dengan
“janganlah sekali-kali” merupakan peringatan agar jangan sampai terlintas di
dalam hati orang yang mendapati sesuatu yang tidak baik ada keinginan
menyalahkan orang lain, tetapi hendaklah ia menyalahkan dirinya sendiri.
C. KESIMPULAN

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda