SEJARAH PERADABAN DAN PEMIKIRAN ISLAM
MASA DINASTI UMAYYAH TIMUR
Oleh: Ahmad Zamroni S.Th.I
Mahasiswa Pascasarjana Prodi Imu al-Qur'an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang
Pendahuluan
Islam sebagai agama dan peradaban yang dirintis oleh Nabi
Muhammad memberikan kontribusi besar pada peradaban dunia, rangkaian penerus
sesudahnya yang dikenal sebagai khalifah, meneruskan otoritas politik untuk
mengayomi seluruh komunitas Muslim. Sejak masa kekhalifahan, Islam tumbuh
menjadi kekuatan budaya dan peradaban serta tradisi agama yang mengakar, dan
berperan penting dalam pembentukan budaya di seluruh dunia. Salah satu Bukti
betapa kayanya ilmu pengetahuan ummat Islam yang dipelopori oleh para sahabat
maupun khalifah yang muncul setelah berakhirnya masa kepemimpinan Khulafaur
Rasyidin. Betapa tidak, setiap perluasan wilayah yang ditakhlukkan oleh Islam
selalu menemui naskah maupun literature-literatur penting yang nantinya dibawa
oleh mereka kembali dan diteliti serta digabungkan dengan ilmu keislaman sehingga
menjadi sebuah teori atau temuan yang luar biasa.
Perkembangan
pemikiran maupun peradaban di dunia Islam pernah berada di puncaknya. Zaman
keemasan tersebut menjadi salah satu nilai sejarah yang tidak akan pernah
terlupakan oleh ummat Islam. Perkembangan pemikiran dan peradaban tersebut
ditandai dengan banyaknya muncul tokoh Islam yang mampu menggemparkan dunia,
baik dari segi pemikiran maupun temuannya. Sehingga, temuan serta pemikiran
tersebut sangat diapresiasi oleh semua kalangan ilmuan di seluruh belahan
dunia, terutama bangsa Barat yan menjadi saingan atau penerus nantinya.Walaupun
bertahap, perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam mampu melahirkan
limuwan-ilmuwan Muslim hebat pada jamannya sesuai dengan bidang keilmuwan
masing-masing.[1]
Setelah
berakhirnya masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, banyak peninggalan yang
diwariskan ke generasi Islam selanjutnya. Mulai dari kodifikasi al-Qur’an
maupun Hadits serta keilmuwan keislaman lainnya. Berakhirnya masa ini, berakhir
juga masa kepemimpinan yang sesungguhnya. Karena system pemilihan pemimpin sebelumnya
ini diadakan secara demokratis dan peralihan kekuasaan yang islami serta jauh
dari konflik yang tidak lagi diterapkan oleh generasi selanjutnya setelah Ali
bin Abi Thalib meninggal.
Dengan
demikian, masa kepemimpinan selanjutnya hanya bersifat aplikatif saja, karena
apa yang diterapkan oleh pemimpin selanjutnya merupakan buah pikiran dari
sebelumnya. Akan tetapi, berakhirnya masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin
meninggalkan kesan yang nantinya akan memeecah belah ummat Islam dan menjadi
pemicu peperangan antar ummat Islam itu sendiri hanya demi menjadikan seorang
pemimpin dari golongan mereka yang berhak mewarisi kepemimpinan Khulafaur
Rasyidin yang dipicu oleh perbedaan pendapat maupun adanya balas dendam.[2]
Sejarah Dinasti Umayyah
Kebanyakan sejarawan
memandang, bahwa lahirnya kedaulatan bani Umayyah di Damaskus (Timur) merupakan
pencapaian yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pandangan negatif mereka
bukan tidak ada bukti. Kemiunculan Dinasti Umayyah ini memang dipicu oleh
kemenangan dalam perang yang melibatkan kedua belah pihak, yaitu Muawiyyah[3]
dan Ali atau dikenal dengan perang Siffin yang terjadi pada Bulan Shafar 37 H/685 M. Peperangan tersebut melibatkan 95.000
orang di pihak Ali dan 85.000 orang di pihak Muawiyah. Di awal peperangan pasukan
Ali yang dipimpin oleh Malik al-Asytar hampir menang dari pasukan Muawiyyah. Akan
tetapi, dari pihak Ali yang dipimpin oleh Amr bin Ash melancarkan siasat yang
cerdik dengan mengacungkan tombak yang di ujungnya dilekatkan salinan Al-Qur’an
pertanda seruan untuk mengakhiri peperangan dan mengikuti keputusan Al-Qur’an.
Dengan
adanya desakan pengikut Ali, siasat yang dipasang oleh pengikut Muawiyyah
berhasil mengelabui Ali, sehingga beliau menerima seruan yang dipelopori oleh Muawiyah
untuk melakukan kesepakatan atau
dikenal dengan arbritase. Dari pihak Ali menunjuk Abu Musa
Al-Asy’ari dan pihak Muawiyah menunjuk
Amr bin Ash yang membuat rencana kesepakatan tersebut. Kedua belah pihak dalam
melaksanakan kesepakatan tersebut merumuskan dua buah kesepakatan, yaitu:
1.
Mencopot Ali dan Muawiyah
dari kursi kekhalifahan
2.
Kewenangan pemerintahan
selanjutnya diberikan pada badan musyawarah umat, untuk mencari format yang
paling tepat bagi mereka, baik pihak Ali dan Muawiyah maupun yang lain.[4]
Setelah
kesepakatan tersebut akan diumumkan oleh kedua belah pihak yang dimulai oleh
pihak Ali, namun setelah giliran pihak Muawiyyah kesepakatan tersebut dirubah
dengan turunnya khalifah Ali dan naiknya Muawiyyah menjadi khalifah. Dengan
keputusan tersebut tentu sangan merugikan pihak Ali yang secara sah seharusnya
menjadi khalifah penerus Utsman. Dengan adanya konflik tersebut semakin
memunculkan konflik lainnya yang diantaranya adalah terpecah belahnya ummat
Islam, yaitu Khawarih, Syi’ah dan Murji’ah yang menjadi kekuatan politik kuat
pada saat itu. Konflik tersebut memicu perang yang berkepanjangan dan
mengakibatkan wafatny Ali secara Syahid atas kaum Khawarij.
Dengan
diangkatnya Muawiyyah menjadi
khalifah di Ilya’ (Yerussalem) pada 40 H/660 M maka sistem
kepemerintahan juga mulai berubah. Beliau adalah pemicu hilangnya tradisi
pemilihan pemimpin secara musyawarah atau demokratis, yaitu pemimpin dipilih
oleh rakyat seperti yang diajarkan oleh Islam pada awal mulanya. Akan tetapi,
berbeda dengan muawiyyah yang memunculkan tradisi baru, yaitu kekuasaan
dipegang oleh keluarga secara turun temurun atau disebut dengan sistem monarki. Sistem pemerintahan tersebut
meniru sitem pemerintahan raja Persia dan Byzantium. Pada 679, Muawiyyah menunjuk putranya Yazid untuk menjadi
penerusnya, serta memerintahkan berbagai urusan provinsi. Ketika itulah ia
memperkenalkan sistem pemerintahan turun-temurun yang setelah itu diikuti oleh
dinasti-dinasti sesudahnya termasuk Dinasti Abbasiyyah.
Pada
mulanya, Muawiyyah ibnu Abu Sufyan ibnu Harb adalah gubernur Syria pada masa
kekhalifahan Ali bin Abi Thalib yang ditunjuk oleh khalifah sebelumya, yaitu
Ustman bin Affan. Dengan demikian, setelah Muawiyyah berhasil menumbangkan Ali,
maka di sinilah awal mula berdirinya disati Umayyah yang merupakan cita-cita
awal sekaligus dialah yang menjadi khalifah pertama kali di dinasti tersebut. Bahkan,
setelah itu beliau memindahkan ibu kota kekuasaan dari sebelumnya, yaitu Kuffah
ke Damaskus.[5]
Keberhasilan
awal yang dicapai oleh Muawiyyah adalah dengan menyatukan kembali wilayah-wilayah
yang dulunya ditakhlukkan oleh Khalifah Utsman pada masa periode 1, yaitu
wilayah sebagian Persia dan Asia Tengah yang telah hilang atau lepas dari
kekuasaan Islam sampai pada masa Ali. Dengan Muawiyyah menjadi khalifah pertama
di dinasti Umayyah itulah dia mengirim utusan ke bagian-bagian wilayah yang
tadinya lepas dari kekuasaan Islam untuk dikembalikan lagi. [6]
Jauh
dari pandangan negatif di atas, ada hal lain yang menarik dan patut diapresiasi
atas diri Muawiyyah. Dalam masa jabatannya menjadi gubernur, prestasi politik
pada masanya sangat mengharukan namanya. Selain itu, Muawiyyah juga seorang
yang ahli di bidang kekuasaan dan administrator Negara. Ini dibuktikan dengan
wilayah yang dipimpinnya menuai kemajuan dalam segala hal. Sehingga, berdirinya
Muawiyyah menjadi khalifah dinasti Umayyah terbantu dengan adanya suara rakyat
yang pernah dipimpinnya. Hal ini dilatarbelakangi oleh pengalamannya selama
meminpin karier, mulai dari komando panglima besar hingga membawanya menjadi kepala
wilayah di Syam yang membawahi Suriah dan Palestina yang berkedudukan di
Damaskus.
Selain
itu, Muawiyyah juga dikenal mempunyai pendirian atau bangunan yang kuat dalam
mewujudkkan kemajuan politiknya itu. 1. Muawiyyah sudah dari dulu disenangi
oleh rakyatnya (pada waktu memimpin suriah). Dalam kurun waktu kepemimpinannya
di suriah, ia sudah memajukan dalam beberapa bidang, diantaranya dari segi
pertahanan, ketentraman, kedisipilin dan pasukan yang terlatih. 2. Seperti
dijelaskan sebelumnya, beliau memiliki keahlian sebagai administrator yang kala
itu sangat teliti dan bijaksana dalam menempatkan para pegawai
kepemerintahannya di bidang dan keahlian masing-masing. 3. Beliau selama
memimpin di juluki oleh “hilm” yaitu sifat tertinggi yang dimiliki oleh para
pembesar makkah. Dengan demikian, beliau mampu menguasai diri secara mutlak dan
dapat mengambil keputusan-keputusan yang penting walaupun adanya tekanan maupun
ketidakadilan.[7]
Adapun
khalifah yang pernah memimpin di dinasti Umayyah adalah:
1.
Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
3.
Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
5.
Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
6.
Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
7.
Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
8.
Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H
/ 717-720 M
9.
Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
10. Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
11. Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
Sumbangsih Dinasti Umayyah
Pada
masa kepemimpinan bani Umayyah, perluasan wilayah menjadi sangat dominan
diantara yang lain. Hal ini merupakan kelanjutan misi Islam awal pada masa
kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang perluasan wilayah tersebut terhenti sejak
khalifah Utsman bin Affan yang pada masanya banyak terjadi perang antar ummat
muslim hingga terbunuhnya Ustman bin Affan. Sehingga dengan ambisi perluasan
wilayah tersebut banyak Negara-negara bagian yang ingin masuk ke dalam wilayah
kekuasaan Islam yang dirasa model kepemerintahan atau pemimpinnya sesuai
dengan harapan mereka.
Selain
itu, bani Umayyah juga berhasil menakhlukkan atau menguasai pasukan militer
lawan. Diantaranya adalah, pasukan militer bangsa Romawi yang tujuan utamanya
adalah untuk mengepung kota bersejarah (Konstantinopel) dan wilayah-wilayah di
sekitarnya. Selain itu, pasukan militer Afrika Utara yang kala itu nerhasil
sampai masuk ke selat Gibraltar hingga ke Spanyol. Dan juga pasukan militer
Timur yang wilayahnya sangat luas, sehingga pasukan bani Umayyah ini dibagi
menjadi dua kelompok untuk melancarkan misinya.[8]
Sumbangsih
Dinasti Umayyah terhadap peradaban Islam sangat besar. Seperti dijelaskan
sebelumnya, bahwa dunia Islam setelah adanya perang Siffin yang mengakibatkan
berakhirnya kepemimpinnan Khulafaur Rasyidin dan terbentuknya Dinasti Umayyah
sangat kacau. Tetapi, Muawiyyah mampu mencairkan suasana saat itu dengan
mengubah system pemerintahan sebelumnya, yaitu musyawarah menjadi monarki. Hal
ini dikarenakan kepandaian Muawiyyah yang sebelumnya ia mempelajari
sejarah-sejarah kerjaan besar dahulu, entah itu dari negeri Arab sendiri maupun
tidak. Sehingga, Muawiyyah mampu meneladani dan mengambil pelajaran dari kisah
tersebut untuk menghadapi pergolakan yang menyelimuti dunia Islam waktu itu.
Ketegangan
yang ditimbulkan oleh berkahirnya masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin
menjadikan generasi Islam selanjutnya penuh dengan kekacauan. Perang antar
ummat Islam sendiri pun tak terhindari demi merebut daerah kekuasan yag dirasa
pantas menjadi miliknya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa dinasti Umayyah mampu
meminpin negaranya selama 90 tahun yaitu
dimulai tahun 661-750 M dengan segala ambisi dan kemampuannya juga telah
memberika sumbangan besar bagi perkembangan pembangun peradaban Islam di dunia.
Keberhasilan-keberhasilan tersebut didapat tentu tidak mudah, dengan segala
keahlian yang dimiliki setiap pemimpin pada masanya, mampu memberikan sumbangan
kemajuan diantaranya adalah:
1.
Perluasan wilayah
Sebagai seorang prajurit, kualitas Muawiyyah jauh lebih
rendah dari Ali, namun sebagai organisator militer, Muawiyyah adalah yang
paling unggul di antara rekan-rekan sezamannya. Ia mencetak bahan mentah yang
terdiri atas pasukan Suriah menjadi satu kekuatan militer Islam yang
terorganisir dan berdisiplin tinggi. Ia menghapus sistem militer yang
didasarkan atas organisasi kesukuan, sisa-sisa peninggalan masa patriarkal
kuno. Ia menghapus berbagai sistem pemerintahan tradisional dan mengadopsi
kerangka pemerintahan Byzantium, ia membangun sebuah negara yang stabil dan
terorganisir dengan baik. Meskipun dari luar terlihat tampak kacau, sebenarnya
ia berhasil membangun sebuah masyarakat muslim yang tertata rapi.
Sejak
memindahkan pusat pemerintahannya ke Damaskus, dinasti Umayyah telah menjadikan
Arab sebagai imperium yang baru, mulai dari sinilah bani Umayyah melanjutkan
perluasan kekuasaan mereka dan memperkuat sentral pemerintahan mereka.
perluasan kekuasaan tersebut meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina,
Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia kecil, Persia, Afghanistan, Pakistan,
Purkmenia, Uzbek dan Kirgis di Asia Tengah.[9]
Tidak
hanya itu, mereka juga berani melakukan Serangan-serangan ke ibu kota Bizantium
dan Konstantinopel yang terkenal dengan tembok dindingnya yang kuat dengan
mengerahkan Angkatan lautnya yang pada masa kepemerintahan Abdul Malik dikenal
dengan kehebatan dari segi angkatan lautnya. Meskipun gagal meraih
Konstanmtinopel, perluasan wilayah tidak terhenti dan mampu menguasai
Balkanabad, Bukhara, Khawarizm, Ferghana, Samarkand, India, Balukhistan, Sind,
Punjab sampai ke Maltan.[10]
2.
Administrasi Pemerintahan
Seperti
dijelaskan sebelumnya, bahwa selain cerdas dalam hal politik maupun kekuasaan,
Muawiyyah juga pandai dalam hal Administrasi Negara. Sehingga, pengembangan
sistem administrasi pemerintahan menuai kemajuan yang signifikan. Mengenai
wilayah administrasi pemerintah, Bani Umayyah membaginya menjadi beberapa
provinsi, (1) Suriah – Palestina; (2) Kufah, termasuk Irak; (3) Bashrah, yang
meliputi Persia, Sijistan, Khurasan, Bahrain, Oman, Nejed dan Yamamah; (4)
Armenia; (5) Hijaz; (6) Karman dan wilayah di perbatasan India; (7) Mesir; (8)
Afrika kecil; (9) Yaman dan Arab Selatan.[11]
Namun, seiring berjalannya waktu dari sekian provinsi ada yang digabung menjadi
satu hingga tersisa lima provinsi dan ditangan oleh wakil Khalifah.
Dalam
mengatur adminitrasi, masa bani Umayyah memiliki tiga tugas yaitu administrasi
publik, pengumpulan pajak, dan pengaturan urusan-urusan keagamaan. Adapun pajak
dan zakat adalah sumber utama pemerintahan tersebut. Pada masa pemerintahan
Muawiyyah, beliau membuat kebijakan dengan menarik pajak sebesar 2,5 persen,
dari pendapatan tahunan orang Islam.[12]
Selanjutnya,
mengenai urusan Administrasi negara, Bani Umayyah telah membentuk semacam
lembaga pemerintahan yang disebut dengan Diwan. Pembentukan Diwan tersebut juga
terbatas, hanya empat diwan yang dirasa penting oleh dinasti Umayyah. Diwan
tersebut adalah Diwan Pajak, Diwan Persuratan, Diwan Penerimaan, dan Diwan Stempel.[13]
Bani Umayyah juga mendirikan sebuah lembaga yang diberi nama Barid. Hal ini
dilakukan karena luasnya wilayah kekuasaan yang dimiliki sehingga, ketikan
melakukan penyuratan akan lebih mudah dengan adanya Barid tersebut. Barid pada
masa Bani Umayyah setara dengan kantor pos pada masa sekarang. Dan mata uang juga
dicetak pertama kali pada masa Bani Umayyah, tepatnya pada masa pemerintahan
Abdul Malik
3.
Perkembangan Ilmu
Pengetahuan
Salah
satu sumbangsih besar Bani Umayyah adalah Ilmu Pengetahuan. Jaikalau pada masa
Nabi dan juga Khulafaur’ Rasyidin hanya focus kepada Qur’an dan hadis, berbeda
dengan jaman Kekhalifahan dinasti Umayyah. Hal ini dikarenakan, persoalan
menganai al-Qur’an dirasa sudah beres dengan adanya penkodifikasian yang
berakhir dengan lahirnya mushaf Utsmani. Dengan demikian, masa Bani Umayyah
adalah menyesuaikan dengan berkembangnya jaman, yaitu tertuju pada ilmu-ilmu
pengetahuan yang bangsa-bangsa barat terlebih dahulu memulainya sebelum adanya
Islam.[14]
Bangsa
Arab sebelum adanya dinasti Umayyah, belum memiliki kualitas keilmuwan yang
tinggi, akan tetapi bukan berarti ummat Islam tidak belajar ilmu selain
al-Qur’an dan Hadits. Justru dengan adanya dinasti Umayyah inilah terlihat
bahwa sesungguhnya orang Islam juga haus akan ilmu pengetahuan. Hal ini
dibuktikan bahwa sejarah mencatat dengan perluasan wilayah yang dilakukan oleh
ummat Islam, mereka juga mempelajari ilmu pengetahuan yang tersimpan dari
wilayah ekpansinya tersebut. Bani Umayyah merupakan cikal bakal tumbuhnya ilmu
pengetahuan, karena dinasti Abbasyiah lah yang akan menumbuhlebatkan ilmu
pengetahuan tersebut.
Dengan
perluasan wilayah yang dilakukan oleh masa sebelumnya, yaitu Khulafaur Rasyidin
yang kemudian diwariskan kepada ummat islam sesudahnya, ternyata banyak
tokoh-tokoh ilmuwan yang wilayahnya ditakhlukkan oleh Islam kemudian memutuskan
untuk masuk Islam dan bahkan mendapat perlindungan serta menduduki jabatan
penting oleh khalifah Bani Umayyah. Disinilah cikal bakal mulai berkembangnya
ilmu pengetahuan.
Dengan
demikian, ketika cucu khalifah Muawiyyah, yaitu Khalid bin Yazid yang sangat
tertarik dengan ilmu kimia dan kedokteran, maka dikirimlah utusan yang ahli
dibidangnya yang kala itu adalah para sarjana Yunani diminta oleh Khalifah
untuk menetap dan selanjutnya menerjemahan buku-buku yang berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab dan
merupakah usaha penerjemahan pertama kali dalam sejarah.
Pada
masa bani Umayyah pulalah muncul beberapa aliran lagi selain, Khawarij dan
Syiah yaitu Mu’tazilah. Kelompok ini dianggap sebagai golongan rasionalis Islam
yang banyak mempergunakan akal dalam membahasnya. [15]
Lahirnya golongan ini bukan tidak karena sebab, jika seperti yang dijelaskan di
atas bahwa banyak orang yang dulunya non Islam kemudian masuk Islam ada juga
yang masih bersikukuh dengan agamanya, salah satunya adalah Protestan. Mereka
beranggapan bahwa “Al-Masih adalah sebagai oknum Tuhan yang kedua”. Dari
sinilah timbul keinginan Ummat Islam untuk menyelidiki anggapan dan bahkan
menjadi keyakinan mereka untuk menelitinya. Jawaban dari penelitihan tersebut
nantinya lah yang akan menjadi hujjah untuk mematahkan keyakinan mereka. Bahasan
tersebut sampai-sampai menyinggung persoalan Qadar dan sifat Tuhan yang
kemudian memunculkan kelompok Mu’tazilah tersebut.[16]
Masa
bani Umayyah juga lah awal mula pembukuan suatu ilmu pengetahuan yang pada
mulanya hanya sekedar hafalan dan tulisan yang terpisah-pisah. Hal ini menunjukkan
bahwa orang Kristen mempunyai andil yang besar dalam mebangun peradaban pada
masa dinasti Umayyah. Penyusunan ilmu penhgetahuan yang sistematis tersebut
terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis yang juga melahirkan ulama-ulama
serta ilmuwan dalam jumlah yang besar. Sebagian besar pelopornya sekali lagi
adalah bukan dari golongan Arab, melainkan dari golongan non-Arab yang menjadi
tawanan perang pada saat ekspansi wilayah. Golongan tersebut dinamakan golongan
Mawali yang berasal dari kata Maula yang artinya adalah seorang budak
tawanan perang yang telah dimerdekakan. Sehingga, pada masa ini mulailah ada
semacam pengelompokan bidang keilmuwan, yaitu:
1.
Ilmu pengetahuan yang
berkonsentrasi pada bidang Agama. Dalam bidang ini semua ilmu bersumber pada
al-Qur’an dan Hadits.
2.
Ilmu Pengetahuan yang
berkonsentrasi pada bidang sejarah.
3.
Ilmu Pengetahuan di bidang
bahasa.
4.
Ilmu Pengetahuan di bidang
filsafat, yaitu ilmu yang berasal dari bangsa asing.[17]
Dalam perkembangan sejarah, orang yang
disebut Mawali tersebut cakupannya menjadi semakin luas, dulunya yang hanya
terbatas pada tawanan perang, pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan berubah
menjadi sangat luas. Pengertian Mawali mencakup semua orang selain Arab. Cakupan
tersebut menjadi semakin luas dikarenakan Bani Umayyah ingin tetap menjunjung
tinggi bangsa Arab sebagai penguasa diantara bangsa lainnya. Sehingga bahasa
Arab menjadi bahasa resmi Negara yang otomatis semakin banyak orang mempelajari
bahasa Arab hingga melahirkan sebuah ilmu, yaitu Qawaid dan ilmu lain untuk
mempelajari bahasa Arab.[18]
4.
Kemiliteran, Pertahanan
dan keamanan
Terbukti
bahwa pada masa kekhalifahan Bani Umayyah menuai banyak kemajuan di segala
bidang. Salah satunya juga yaitu dalam hal keamanan Negara. Pada masa Khalifah
pertama, dibentuklah organisasi militer yang mencakup angkatan darat (al-Jund),
angkatan laut (al-Bahriyah) dan angkatan kepolisian (as-Syurtah). Namun,
berbeda dengan masa Khalifah Usman yang perekrutannya tidak berdasarkan atas
kemauan diri sendiri untuk melakukan perjuangan, melainkan lebih kepada
paksaan. Masa ini juga masih menggunakan taktik politik wilayahnya, yaitu
angkatan bersenjata hanya diberikan kepada keturunan Arab atau unsur Arab. Hal
ini dikarenakan fanatiknya Khalifah yang menjadikan bangsa Arab di atas bangsa
lain. Hingga setelah semakin meluasnya kekuasaan Islam, orang luar pun turut
ambil bagian dalam persenjataan. Adapun pada masa Khalifah Abdul Malik bin
Marwan, diberlakukannya Nidam at-Tajdid
al-Ijbari atau biasa disebut dengan wajib militer.
Adapun
organisasi militer angkatan laut, sudah dimuali sejak Muawiyyah melakukan
peperangan melawan negeri Romawi. Hal ini menjadi acuan Muawiyyah untuk
mengembangkan militer angkatan laut. Sejak ia resmi menjadi Khalifah, inisiatif
pembuatan kapal perang yang sangat berguna bagi keberlangsungan usahanya dalam
memperluas wilayah. Selain itu, sebagai sarana untuk melindungi diri dari
serangan musuh, terutama dari Byzantium dan juga sebagai alat transportasi
sehari-hari untuk perdagangan dan lain sebagainya.
Sedangkan
organisasi kepolisian yang dulunya hanya diperuntukkan di organisasi kehakiman
yang setelah perkembangannya menjadi suatu organisasi yang berdiri sendiri dan
mendapati tugas sebagai pemberantas kejahatan yang pada masa Khalifah Hisyam
ibnu Abdul Malik dibentuk lagi Nidham
al-Ahdas yang anggotanya juga dari organisasi kepolisian yang bertugas
hamper sama dengan tentara pada waktu sekarang.[19]
5.
Perkembangan Arsitektur.
Sebagai
ibukota kerajaan, Damaskus menjadi pusat pembangunan yang dinomer satukan oleh
Khalifah. Damaskus yang dulunya adalah ibu kota kerajaan Romawi Timur sebelum
Islam dating telah berdiri bangunan yang indah. Namun pada masa dinsati Bani
Umayyah, kota tersebut dibangun kembali dengan memadukan bangunan yang
bernuansa Persia, Romawi dan Arab yang semua pembangunan tersebut bernilaikan
Islami.
Selain
bangunan-bangunan yang indah dan bernilai seni, pada masa Khalifah Umayyah juga
dibangun “Istana Hijau” di Miyata. Sebagai symbol kegamaan, bangunan yang
paling menonjol dari bangunan lain adalah terletak pada tempat ibadahnya, yaitu
masjid. Masjid yang secara umum digunakan sebagai tempat ibadah menjadi semakin
luas maknanya. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi
sentral bagi pembesar untuk dijadikan sebagai ruang pertemuan, urusan politik
serta tempat sarana belajar mengajar.
6.
Perdagangan
Tidak
dipungkiri bahwa semakin luasnya daerah kekuasaan Islam melahirkan kemakmuran
di segala bidang. Perdangan juga menuai banyak kemajuan setelah didirikan
armada laut yang semakin memudahkan jalur perdagangan selain melewati jalur
darat. Jalur darat yang merupakan jalur perdagangan ke Tiongkok memperlancar
dagangan sutrea, keramik, obat-obatan dan wewangian. Sedangkan jalur laut lebih
kepada pencarian rempah-rempah, tambang diantranya lohgam mulia dan lain
sebagainya. Sehingga dengan demikian, Bashrah yang merupakan sebuah Ibukota
menjadi pusat perdagangan yang sangat maju. Meningkatnya perdagangan ini
menjadikan popularitas dinasti Umayyah semakin tinggi dan kemakmuranj semakin
terjamin.
7.
Kerajinan
Selain
majunya peradaban di bidang arsitektur, karya seni atau kerajinan juga
mengalami peningkatan. Pada masa pemerintahan dinasti Umayyah pula lahir
pembuatan border atau disebut dengan Tiraz.
Ini adalah semacam tanda resmi yang dibubuhkan dalam setiap pakaian Khalifah
dan semua pembesarnya. Tiraz tersebut memang salah satu tradisi Kristen, tetapi
oleh Khalifah menggantinya dengan kalimah “La
Ilaha Illa Allah” sebagai symbol keagamaan mereka.masa ini terjadi pada
masa kekhalifahan Abdul Malik yang kemudian ia mendirikan semacam pabrik kain beserta
Tiraz tersebut guna memperlancar idenya tersebut.
Selain
mendirikan pbarik kain dan pembuatan Tiraz, pada masa ini pula karya seni lain
muncul, yaitu seni lukis. Memang sejak kekhalifahan Umayyah karya seni yang
satu ini sudah mendapat perhatian khusus dan sudah diterapkan dalam menghiasi
masjid-masjid bangunannya. Namun, pada masa khalifah al-Walid I, lukisan tidak
hanya di masjid atu lainnya tetapi juga di dalam istana. Lukisan berbagai macam
binatang diimplementasikan pertama kali juga oleh khalifah al-Walid I yang
dimodifikasi secara Islami dan berhasil menarik perhatian bangsa luar, termasuk
Eropa.[20]
Kesimpulan
Dari
paparan makalah tentang sejarah peradaban Islam pada masa Bani Ummayyah di
Timur ini, dapat diambil beberapa natijah sebagai berikut :
Peradaban Islam dibangun di atas pondasi tauhid, yang telah
dirintis oleh Nabi Muhammad sebagai pelopor yang mendobrak peradaban manusia
menjadi sebuah ummah (masyarakat, bangsa) yang baru. Politik dan kekuasaan
dalam membangun peradaban harus sesuai dengan tujuan Tuhan dalam menempatkan
manusia di bumi sebagaikhalifah (pemimpin, penguasa, pengelola)
bumi untuk mewujudkan peradaban yang berorientasi dan bervisi surga.
Terlepas dari konflik yang terjadi pada masanya, Bani Umayyah
telah berhasil meletakkan sebuah periodisasi Islam yang baru dalam peradaban
dunia, memberikan pengaruh sangat besar pada wilayah-wilayah yang dikuasaianya,
baik pengaruh peradaban secara fisik maupun secara budaya, sosial dan agama.
Daftar Pustaka
Abdurrahman, Dudung.
2004. Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa
Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: Lesfi.
al-Azizi,
Abdul Syukur. 2014. Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap Jogjakarta:
Saufa.
Amin, Ahmad. 1965. Fajr al-Islam, Kairo: Maktabah
al-Nahdah.
Hassan, Hassan Ibrahim.
1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj.
Jahdan Ibnu Humam Jogjakarta: Kota Kembang.
Hitti, Philip
K. 2013. History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi
Slamet Riyadi, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta,
Katsir, Ibnu.
2012. Al Bidayah wa An-Nihayah, Jilid XI, terj. Amir Hamzah
dan Misbah Jakarta: Pustaka Azzam.
Karim, M. Abdul. 2006. Islam di
Sia Tengah, Yogyakarta: Bagaskara
Mufrodi, Ali. 2006. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta:
Logos Wacana Ilmu, 1997.
Nasution, Harun. 1971. Teologi Islam Aliran-Aliran Perbandingan, Jakarta:
UI Press.
Sulaiman, Rusydi. 2015.
Pengantar Metodologi Studi Sejarah
Peradaban Islam, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sunanto, Musyrifah.
2014. Sejarah Islam Klasik, Perkembangan
Ilmu Pengetahuan Klasik, Jakarta: Prenada Media.
Syalabi, A.
1989. Sejarah dan Kebudayaan
Islam II, Jakarta: Pustaka al-Husna.
[1] Rusydi Sulaiman, Pengantar Metodologi Studi Sejarah Peradaban
Islam, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2015), hal. 242
[2]
Ibid, hal. 248
[3] Muawiyyah adalah dari Abu
Sufyan, memerintah dengan pedang. Dalam dirinya terdapat gabungan sifat-sifat
seorang penguasa, politikus dan administrator. Muawiyyah adalah seorang
peneliti sifat manusia yang tekun dan memiliki wawasan yang tajam tentang
pikiran manusia. Dia berhasil memanfaatkan para pemimpin, administrator dan
politikus yang paling ahli pada waktu itu. Sebelum dinobatkan menjadi Khalifah
pertama dinasti Umayyah, ia telah menjabat selama duapuluh tahun sebagai
Gubernur Syam. Maka inilah alasan bila pengaruh politiknya sangat mengakar di
wilayah tersebut, sehingga kemudian meilikih Damaskus sebagai ibukota Khilafah
Bani Umayyah. Lihat Rusydi Sulaiman, Pengantar
Metodologi Studi Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada, 2015), hal. 253
[4] Ibnu
Katsir, Al Bidayah wa An-Nihayah, terj. Amir Hamzah dan Misbah
(Jakarta: Pustaka Azzam, 2012, Jilid XI), hal, 401
[5] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta:
Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 69
[6] M. Abdul Karim, Islam di Sia Tengah, (Yogyakarta:
Bagaskara, 2006), hal. 12
[7] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan kebudayaan Arab, hal.
70-71
[9] Abdul
Syukur al-Azizi, Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap (Jogjakarta:
Saufa, 2014), hal. 158
[10] Ibid, hal. 158
[11] Philip
K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan
Dedi Slamet Riyadi (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2013), h. 280
[12] Ibid, hal. 281
[13]Hassan Ibreahim Hassan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj.
Jahdan Ibnu Humam (Jogjakarta: Kota Kembang, 1989), hal. 63
[14] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, Perkembangan Ilmu
Pengetahuan Klasik, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hal. 38
[15] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Perbandingan, (Jakarta:
UI Press, 1971), hal. 38
[16] Musyrifah Sunanto, hal. 40
[17] Musyrifah Sunanto, hal. 41-42
[18] Ahmad Amin, Fajr al-Islam, (Kairo: Maktabah al-Nahdah, 1965), hal. 200
[19] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik
Hingga Modern, (Yogyakarta: Lesfi, 2004), hal. 76
[20] Dudung Abdurrahman,

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda