Senin, 16 April 2018


SEJARAH PERADABAN DAN PEMIKIRAN ISLAM 
MASA DINASTI UMAYYAH TIMUR

Oleh: Ahmad Zamroni S.Th.I
Mahasiswa Pascasarjana Prodi Imu al-Qur'an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang


Pendahuluan
Islam sebagai agama dan peradaban yang dirintis oleh Nabi Muhammad memberikan kontribusi besar pada peradaban dunia, rangkaian penerus sesudahnya yang dikenal sebagai khalifah, meneruskan otoritas politik untuk mengayomi seluruh komunitas Muslim. Sejak masa kekhalifahan, Islam tumbuh menjadi kekuatan budaya dan peradaban serta tradisi agama yang mengakar, dan berperan penting dalam pembentukan budaya di seluruh dunia. Salah satu Bukti betapa kayanya ilmu pengetahuan ummat Islam yang dipelopori oleh para sahabat maupun khalifah yang muncul setelah berakhirnya masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Betapa tidak, setiap perluasan wilayah yang ditakhlukkan oleh Islam selalu menemui naskah maupun literature-literatur penting yang nantinya dibawa oleh mereka kembali dan diteliti serta digabungkan dengan ilmu keislaman sehingga menjadi sebuah teori atau temuan yang luar biasa.
Perkembangan pemikiran maupun peradaban di dunia Islam pernah berada di puncaknya. Zaman keemasan tersebut menjadi salah satu nilai sejarah yang tidak akan pernah terlupakan oleh ummat Islam. Perkembangan pemikiran dan peradaban tersebut ditandai dengan banyaknya muncul tokoh Islam yang mampu menggemparkan dunia, baik dari segi pemikiran maupun temuannya. Sehingga, temuan serta pemikiran tersebut sangat diapresiasi oleh semua kalangan ilmuan di seluruh belahan dunia, terutama bangsa Barat yan menjadi saingan atau penerus nantinya.Walaupun bertahap, perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam mampu melahirkan limuwan-ilmuwan Muslim hebat pada jamannya sesuai dengan bidang keilmuwan masing-masing.[1]
Setelah berakhirnya masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, banyak peninggalan yang diwariskan ke generasi Islam selanjutnya. Mulai dari kodifikasi al-Qur’an maupun Hadits serta keilmuwan keislaman lainnya. Berakhirnya masa ini, berakhir juga masa kepemimpinan yang sesungguhnya. Karena system pemilihan pemimpin sebelumnya ini diadakan secara demokratis dan peralihan kekuasaan yang islami serta jauh dari konflik yang tidak lagi diterapkan oleh generasi selanjutnya setelah Ali bin Abi Thalib meninggal.
Dengan demikian, masa kepemimpinan selanjutnya hanya bersifat aplikatif saja, karena apa yang diterapkan oleh pemimpin selanjutnya merupakan buah pikiran dari sebelumnya. Akan tetapi, berakhirnya masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin meninggalkan kesan yang nantinya akan memeecah belah ummat Islam dan menjadi pemicu peperangan antar ummat Islam itu sendiri hanya demi menjadikan seorang pemimpin dari golongan mereka yang berhak mewarisi kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang dipicu oleh perbedaan pendapat maupun adanya balas dendam.[2]
Sejarah Dinasti Umayyah
Kebanyakan sejarawan memandang, bahwa lahirnya kedaulatan bani Umayyah di Damaskus (Timur) merupakan pencapaian yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pandangan negatif mereka bukan tidak ada bukti. Kemiunculan Dinasti Umayyah ini memang dipicu oleh kemenangan dalam perang yang melibatkan kedua belah pihak, yaitu Muawiyyah[3] dan Ali atau dikenal dengan perang Siffin yang terjadi pada Bulan Shafar 37 H/685 M. Peperangan tersebut melibatkan 95.000 orang di pihak Ali dan 85.000 orang di pihak Muawiyah. Di awal peperangan pasukan Ali yang dipimpin oleh Malik al-Asytar hampir menang dari pasukan Muawiyyah. Akan tetapi, dari pihak Ali yang dipimpin oleh Amr bin Ash melancarkan siasat yang cerdik dengan mengacungkan tombak yang di ujungnya dilekatkan salinan Al-Qur’an pertanda seruan untuk mengakhiri peperangan dan mengikuti keputusan Al-Qur’an.
Dengan adanya desakan pengikut Ali, siasat yang dipasang oleh pengikut Muawiyyah berhasil mengelabui Ali, sehingga beliau  menerima seruan yang dipelopori oleh Muawiyah untuk melakukan kesepakatan atau dikenal dengan arbritase. Dari pihak Ali menunjuk Abu Musa Al-Asy’ari dan pihak  Muawiyah menunjuk Amr bin Ash yang membuat rencana kesepakatan tersebut. Kedua belah pihak dalam melaksanakan kesepakatan tersebut merumuskan dua buah kesepakatan, yaitu:
1.      Mencopot Ali dan Muawiyah dari kursi kekhalifahan
2.      Kewenangan pemerintahan selanjutnya diberikan pada badan musyawarah umat, untuk mencari format yang paling tepat bagi mereka, baik pihak Ali dan Muawiyah maupun yang lain.[4]
Setelah kesepakatan tersebut akan diumumkan oleh kedua belah pihak yang dimulai oleh pihak Ali, namun setelah giliran pihak Muawiyyah kesepakatan tersebut dirubah dengan turunnya khalifah Ali dan naiknya Muawiyyah menjadi khalifah. Dengan keputusan tersebut tentu sangan merugikan pihak Ali yang secara sah seharusnya menjadi khalifah penerus Utsman. Dengan adanya konflik tersebut semakin memunculkan konflik lainnya yang diantaranya adalah terpecah belahnya ummat Islam, yaitu Khawarih, Syi’ah dan Murji’ah yang menjadi kekuatan politik kuat pada saat itu. Konflik tersebut memicu perang yang berkepanjangan dan mengakibatkan wafatny Ali secara Syahid atas kaum Khawarij.
Dengan diangkatnya Muawiyyah menjadi khalifah di Ilya’ (Yerussalem) pada 40 H/660 M maka sistem kepemerintahan juga mulai berubah. Beliau adalah pemicu hilangnya tradisi pemilihan pemimpin secara musyawarah atau demokratis, yaitu pemimpin dipilih oleh rakyat seperti yang diajarkan oleh Islam pada awal mulanya. Akan tetapi, berbeda dengan muawiyyah yang memunculkan tradisi baru, yaitu kekuasaan dipegang oleh keluarga secara turun temurun atau disebut dengan sistem monarki. Sistem pemerintahan tersebut meniru sitem pemerintahan raja Persia dan Byzantium. Pada 679, Muawiyyah menunjuk putranya Yazid untuk menjadi penerusnya, serta memerintahkan berbagai urusan provinsi. Ketika itulah ia memperkenalkan sistem pemerintahan turun-temurun yang setelah itu diikuti oleh dinasti-dinasti sesudahnya termasuk Dinasti Abbasiyyah.
Pada mulanya, Muawiyyah ibnu Abu Sufyan ibnu Harb adalah gubernur Syria pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib yang ditunjuk oleh khalifah sebelumya, yaitu Ustman bin Affan. Dengan demikian, setelah Muawiyyah berhasil menumbangkan Ali, maka di sinilah awal mula berdirinya disati Umayyah yang merupakan cita-cita awal sekaligus dialah yang menjadi khalifah pertama kali di dinasti tersebut. Bahkan, setelah itu beliau memindahkan ibu kota kekuasaan dari sebelumnya, yaitu Kuffah ke Damaskus.[5]
Keberhasilan awal yang dicapai oleh Muawiyyah adalah dengan menyatukan kembali wilayah-wilayah yang dulunya ditakhlukkan oleh Khalifah Utsman pada masa periode 1, yaitu wilayah sebagian Persia dan Asia Tengah yang telah hilang atau lepas dari kekuasaan Islam sampai pada masa Ali. Dengan Muawiyyah menjadi khalifah pertama di dinasti Umayyah itulah dia mengirim utusan ke bagian-bagian wilayah yang tadinya lepas dari kekuasaan Islam untuk dikembalikan lagi. [6]
Jauh dari pandangan negatif di atas, ada hal lain yang menarik dan patut diapresiasi atas diri Muawiyyah. Dalam masa jabatannya menjadi gubernur, prestasi politik pada masanya sangat mengharukan namanya. Selain itu, Muawiyyah juga seorang yang ahli di bidang kekuasaan dan administrator Negara. Ini dibuktikan dengan wilayah yang dipimpinnya menuai kemajuan dalam segala hal. Sehingga, berdirinya Muawiyyah menjadi khalifah dinasti Umayyah terbantu dengan adanya suara rakyat yang pernah dipimpinnya. Hal ini dilatarbelakangi oleh pengalamannya selama meminpin karier, mulai dari komando panglima besar hingga membawanya menjadi kepala wilayah di Syam yang membawahi Suriah dan Palestina yang berkedudukan di Damaskus.
Selain itu, Muawiyyah juga dikenal mempunyai pendirian atau bangunan yang kuat dalam mewujudkkan kemajuan politiknya itu. 1. Muawiyyah sudah dari dulu disenangi oleh rakyatnya (pada waktu memimpin suriah). Dalam kurun waktu kepemimpinannya di suriah, ia sudah memajukan dalam beberapa bidang, diantaranya dari segi pertahanan, ketentraman, kedisipilin dan pasukan yang terlatih. 2. Seperti dijelaskan sebelumnya, beliau memiliki keahlian sebagai administrator yang kala itu sangat teliti dan bijaksana dalam menempatkan para pegawai kepemerintahannya di bidang dan keahlian masing-masing. 3. Beliau selama memimpin di juluki oleh “hilm” yaitu sifat tertinggi yang dimiliki oleh para pembesar makkah. Dengan demikian, beliau mampu menguasai diri secara mutlak dan dapat mengambil keputusan-keputusan yang penting walaupun adanya tekanan maupun ketidakadilan.[7]
Adapun khalifah yang pernah memimpin di dinasti Umayyah adalah:
1.      Muawiyah I bin Abu Sufyan, 41-61 H / 661-680 M
2.       Yazid I bin Muawiyah, 61-64 H / 680-683 M
3.       Muawiyah II bin Yazid, 64-65 H / 683-684 M
4.      Marwan I bin al-Hakam, 65-66 H / 684-685 M
5.      Abdul-Malik bin Marwan, 66-86 H / 685-705 M
6.      Al-Walid I bin Abdul-Malik, 86-97 H / 705-715 M
7.      Sulaiman bin Abdul-Malik, 97-99 H / 715-717 M
8.      Umar II bin Abdul-Aziz, 99-102 H / 717-720 M
9.      Yazid II bin Abdul-Malik, 102-106 H / 720-724 M
10.   Hisyam bin Abdul-Malik, 106-126 H / 724-743 M
11.  Al-Walid II bin Yazid II, 126-127 H / 743-744 M
12.  Yazid III bin al-Walid, 127 H / 744 M
13.  Ibrahim bin al-Walid, 127 H / 744 M
14.  Marwan II bin Muhammad

Sumbangsih Dinasti Umayyah
Pada masa kepemimpinan bani Umayyah, perluasan wilayah menjadi sangat dominan diantara yang lain. Hal ini merupakan kelanjutan misi Islam awal pada masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang perluasan wilayah tersebut terhenti sejak khalifah Utsman bin Affan yang pada masanya banyak terjadi perang antar ummat muslim hingga terbunuhnya Ustman bin Affan. Sehingga dengan ambisi perluasan wilayah tersebut banyak Negara-negara bagian yang ingin masuk ke dalam wilayah kekuasaan Islam yang dirasa model kepemerintahan atau pemimpinnya sesuai dengan  harapan mereka.
Selain itu, bani Umayyah juga berhasil menakhlukkan atau menguasai pasukan militer lawan. Diantaranya adalah, pasukan militer bangsa Romawi yang tujuan utamanya adalah untuk mengepung kota bersejarah (Konstantinopel) dan wilayah-wilayah di sekitarnya. Selain itu, pasukan militer Afrika Utara yang kala itu nerhasil sampai masuk ke selat Gibraltar hingga ke Spanyol. Dan juga pasukan militer Timur yang wilayahnya sangat luas, sehingga pasukan bani Umayyah ini dibagi menjadi dua kelompok untuk melancarkan misinya.[8]
Sumbangsih Dinasti Umayyah terhadap peradaban Islam sangat besar. Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa dunia Islam setelah adanya perang Siffin yang mengakibatkan berakhirnya kepemimpinnan Khulafaur Rasyidin dan terbentuknya Dinasti Umayyah sangat kacau. Tetapi, Muawiyyah mampu mencairkan suasana saat itu dengan mengubah system pemerintahan sebelumnya, yaitu musyawarah menjadi monarki. Hal ini dikarenakan kepandaian Muawiyyah yang sebelumnya ia mempelajari sejarah-sejarah kerjaan besar dahulu, entah itu dari negeri Arab sendiri maupun tidak. Sehingga, Muawiyyah mampu meneladani dan mengambil pelajaran dari kisah tersebut untuk menghadapi pergolakan yang menyelimuti dunia Islam waktu itu.
Ketegangan yang ditimbulkan oleh berkahirnya masa kekhalifahan Khulafaur Rasyidin menjadikan generasi Islam selanjutnya penuh dengan kekacauan. Perang antar ummat Islam sendiri pun tak terhindari demi merebut daerah kekuasan yag dirasa pantas menjadi miliknya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa dinasti Umayyah mampu meminpin negaranya selama  90 tahun yaitu dimulai tahun 661-750 M dengan segala ambisi dan kemampuannya juga telah memberika sumbangan besar bagi perkembangan pembangun peradaban Islam di dunia. Keberhasilan-keberhasilan tersebut didapat tentu tidak mudah, dengan segala keahlian yang dimiliki setiap pemimpin pada masanya, mampu memberikan sumbangan kemajuan diantaranya adalah:
1.      Perluasan wilayah
Sebagai seorang prajurit, kualitas Muawiyyah jauh lebih rendah dari Ali, namun sebagai organisator militer, Muawiyyah adalah yang paling unggul di antara rekan-rekan sezamannya. Ia mencetak bahan mentah yang terdiri atas pasukan Suriah menjadi satu kekuatan militer Islam yang terorganisir dan berdisiplin tinggi. Ia menghapus sistem militer yang didasarkan atas organisasi kesukuan, sisa-sisa peninggalan masa patriarkal kuno. Ia menghapus berbagai sistem pemerintahan tradisional dan mengadopsi kerangka pemerintahan Byzantium, ia membangun sebuah negara yang stabil dan terorganisir dengan baik. Meskipun dari luar terlihat tampak kacau, sebenarnya ia berhasil membangun sebuah masyarakat muslim yang tertata rapi.
Sejak memindahkan pusat pemerintahannya ke Damaskus, dinasti Umayyah telah menjadikan Arab sebagai imperium yang baru, mulai dari sinilah bani Umayyah melanjutkan perluasan kekuasaan mereka dan memperkuat sentral pemerintahan mereka. perluasan kekuasaan tersebut meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia kecil, Persia, Afghanistan, Pakistan, Purkmenia, Uzbek dan Kirgis di Asia Tengah.[9] 
Tidak hanya itu, mereka juga berani melakukan Serangan-serangan ke ibu kota Bizantium dan Konstantinopel yang terkenal dengan tembok dindingnya yang kuat dengan mengerahkan Angkatan lautnya yang pada masa kepemerintahan Abdul Malik dikenal dengan kehebatan dari segi angkatan lautnya. Meskipun gagal meraih Konstanmtinopel, perluasan wilayah tidak terhenti dan mampu menguasai Balkanabad, Bukhara, Khawarizm, Ferghana, Samarkand, India, Balukhistan, Sind, Punjab sampai ke Maltan.[10]
2.       Administrasi Pemerintahan
Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa selain cerdas dalam hal politik maupun kekuasaan, Muawiyyah juga pandai dalam hal Administrasi Negara. Sehingga, pengembangan sistem administrasi pemerintahan menuai kemajuan yang signifikan. Mengenai wilayah administrasi pemerintah, Bani Umayyah membaginya menjadi beberapa provinsi, (1) Suriah – Palestina; (2) Kufah, termasuk Irak; (3) Bashrah, yang meliputi Persia, Sijistan, Khurasan, Bahrain, Oman, Nejed dan Yamamah; (4) Armenia; (5) Hijaz; (6) Karman dan wilayah di perbatasan India; (7) Mesir; (8) Afrika kecil; (9) Yaman dan Arab Selatan.[11] Namun, seiring berjalannya waktu dari sekian provinsi ada yang digabung menjadi satu hingga tersisa lima provinsi dan ditangan oleh wakil Khalifah.
Dalam mengatur adminitrasi, masa bani Umayyah memiliki tiga tugas yaitu administrasi publik, pengumpulan pajak, dan pengaturan urusan-urusan keagamaan. Adapun pajak dan zakat adalah sumber utama pemerintahan tersebut. Pada masa pemerintahan Muawiyyah, beliau membuat kebijakan dengan menarik pajak sebesar 2,5 persen, dari pendapatan tahunan orang Islam.[12]
Selanjutnya, mengenai urusan Administrasi negara, Bani Umayyah telah membentuk semacam lembaga pemerintahan yang disebut dengan Diwan. Pembentukan Diwan tersebut juga terbatas, hanya empat diwan yang dirasa penting oleh dinasti Umayyah. Diwan tersebut adalah Diwan Pajak, Diwan Persuratan, Diwan Penerimaan, dan Diwan Stempel.[13] Bani Umayyah juga mendirikan sebuah lembaga yang diberi nama Barid. Hal ini dilakukan karena luasnya wilayah kekuasaan yang dimiliki sehingga, ketikan melakukan penyuratan akan lebih mudah dengan adanya Barid tersebut. Barid pada masa Bani Umayyah setara dengan kantor pos pada masa sekarang. Dan mata uang juga dicetak pertama kali pada masa Bani Umayyah, tepatnya pada masa pemerintahan Abdul Malik
3.       Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Salah satu sumbangsih besar Bani Umayyah adalah Ilmu Pengetahuan. Jaikalau pada masa Nabi dan juga Khulafaur’ Rasyidin hanya focus kepada Qur’an dan hadis, berbeda dengan jaman Kekhalifahan dinasti Umayyah. Hal ini dikarenakan, persoalan menganai al-Qur’an dirasa sudah beres dengan adanya penkodifikasian yang berakhir dengan lahirnya mushaf Utsmani. Dengan demikian, masa Bani Umayyah adalah menyesuaikan dengan berkembangnya jaman, yaitu tertuju pada ilmu-ilmu pengetahuan yang bangsa-bangsa barat terlebih dahulu memulainya sebelum adanya Islam.[14]
Bangsa Arab sebelum adanya dinasti Umayyah, belum memiliki kualitas keilmuwan yang tinggi, akan tetapi bukan berarti ummat Islam tidak belajar ilmu selain al-Qur’an dan Hadits. Justru dengan adanya dinasti Umayyah inilah terlihat bahwa sesungguhnya orang Islam juga haus akan ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan bahwa sejarah mencatat dengan perluasan wilayah yang dilakukan oleh ummat Islam, mereka juga mempelajari ilmu pengetahuan yang tersimpan dari wilayah ekpansinya tersebut. Bani Umayyah merupakan cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan, karena dinasti Abbasyiah lah yang akan menumbuhlebatkan ilmu pengetahuan tersebut.
Dengan perluasan wilayah yang dilakukan oleh masa sebelumnya, yaitu Khulafaur Rasyidin yang kemudian diwariskan kepada ummat islam sesudahnya, ternyata banyak tokoh-tokoh ilmuwan yang wilayahnya ditakhlukkan oleh Islam kemudian memutuskan untuk masuk Islam dan bahkan mendapat perlindungan serta menduduki jabatan penting oleh khalifah Bani Umayyah. Disinilah cikal bakal mulai berkembangnya ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, ketika cucu khalifah Muawiyyah, yaitu Khalid bin Yazid yang sangat tertarik dengan ilmu kimia dan kedokteran, maka dikirimlah utusan yang ahli dibidangnya yang kala itu adalah para sarjana Yunani diminta oleh Khalifah untuk menetap dan selanjutnya menerjemahan buku-buku yang  berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab dan merupakah usaha penerjemahan pertama kali dalam sejarah.
Pada masa bani Umayyah pulalah muncul beberapa aliran lagi selain, Khawarij dan Syiah yaitu Mu’tazilah. Kelompok ini dianggap sebagai golongan rasionalis Islam yang banyak mempergunakan akal dalam membahasnya. [15] Lahirnya golongan ini bukan tidak karena sebab, jika seperti yang dijelaskan di atas bahwa banyak orang yang dulunya non Islam kemudian masuk Islam ada juga yang masih bersikukuh dengan agamanya, salah satunya adalah Protestan. Mereka beranggapan bahwa “Al-Masih adalah sebagai oknum Tuhan yang kedua”. Dari sinilah timbul keinginan Ummat Islam untuk menyelidiki anggapan dan bahkan menjadi keyakinan mereka untuk menelitinya. Jawaban dari penelitihan tersebut nantinya lah yang akan menjadi hujjah untuk mematahkan keyakinan mereka. Bahasan tersebut sampai-sampai menyinggung persoalan Qadar dan sifat Tuhan yang kemudian memunculkan kelompok Mu’tazilah tersebut.[16]
Masa bani Umayyah juga lah awal mula pembukuan suatu ilmu pengetahuan yang pada mulanya hanya sekedar hafalan dan tulisan yang terpisah-pisah. Hal ini menunjukkan bahwa orang Kristen mempunyai andil yang besar dalam mebangun peradaban pada masa dinasti Umayyah. Penyusunan ilmu penhgetahuan yang sistematis tersebut terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis yang juga melahirkan ulama-ulama serta ilmuwan dalam jumlah yang besar. Sebagian besar pelopornya sekali lagi adalah bukan dari golongan Arab, melainkan dari golongan non-Arab yang menjadi tawanan perang pada saat ekspansi wilayah. Golongan tersebut dinamakan golongan Mawali yang berasal dari kata Maula yang artinya adalah seorang budak tawanan perang yang telah dimerdekakan. Sehingga, pada masa ini mulailah ada semacam pengelompokan bidang keilmuwan, yaitu:
1.      Ilmu pengetahuan yang berkonsentrasi pada bidang Agama. Dalam bidang ini semua ilmu bersumber pada al-Qur’an dan Hadits.
2.      Ilmu Pengetahuan yang berkonsentrasi pada bidang sejarah.
3.      Ilmu Pengetahuan di bidang bahasa.
4.      Ilmu Pengetahuan di bidang filsafat, yaitu ilmu yang berasal dari bangsa asing.[17]
Dalam perkembangan sejarah, orang yang disebut Mawali tersebut cakupannya menjadi semakin luas, dulunya yang hanya terbatas pada tawanan perang, pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan berubah menjadi sangat luas. Pengertian Mawali mencakup semua orang selain Arab. Cakupan tersebut menjadi semakin luas dikarenakan Bani Umayyah ingin tetap menjunjung tinggi bangsa Arab sebagai penguasa diantara bangsa lainnya. Sehingga bahasa Arab menjadi bahasa resmi Negara yang otomatis semakin banyak orang mempelajari bahasa Arab hingga melahirkan sebuah ilmu, yaitu Qawaid dan ilmu lain untuk mempelajari bahasa Arab.[18]
4.       Kemiliteran, Pertahanan dan keamanan
Terbukti bahwa pada masa kekhalifahan Bani Umayyah menuai banyak kemajuan di segala bidang. Salah satunya juga yaitu dalam hal keamanan Negara. Pada masa Khalifah pertama, dibentuklah organisasi militer yang mencakup angkatan darat (al-Jund), angkatan laut (al-Bahriyah) dan angkatan kepolisian (as-Syurtah). Namun, berbeda dengan masa Khalifah Usman yang perekrutannya tidak berdasarkan atas kemauan diri sendiri untuk melakukan perjuangan, melainkan lebih kepada paksaan. Masa ini juga masih menggunakan taktik politik wilayahnya, yaitu angkatan bersenjata hanya diberikan kepada keturunan Arab atau unsur Arab. Hal ini dikarenakan fanatiknya Khalifah yang menjadikan bangsa Arab di atas bangsa lain. Hingga setelah semakin meluasnya kekuasaan Islam, orang luar pun turut ambil bagian dalam persenjataan. Adapun pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, diberlakukannya Nidam at-Tajdid al-Ijbari atau biasa disebut dengan wajib militer.
Adapun organisasi militer angkatan laut, sudah dimuali sejak Muawiyyah melakukan peperangan melawan negeri Romawi. Hal ini menjadi acuan Muawiyyah untuk mengembangkan militer angkatan laut. Sejak ia resmi menjadi Khalifah, inisiatif pembuatan kapal perang yang sangat berguna bagi keberlangsungan usahanya dalam memperluas wilayah. Selain itu, sebagai sarana untuk melindungi diri dari serangan musuh, terutama dari Byzantium dan juga sebagai alat transportasi sehari-hari untuk perdagangan dan lain sebagainya.
Sedangkan organisasi kepolisian yang dulunya hanya diperuntukkan di organisasi kehakiman yang setelah perkembangannya menjadi suatu organisasi yang berdiri sendiri dan mendapati tugas sebagai pemberantas kejahatan yang pada masa Khalifah Hisyam ibnu Abdul Malik dibentuk lagi Nidham al-Ahdas yang anggotanya juga dari organisasi kepolisian yang bertugas hamper sama dengan tentara pada waktu sekarang.[19]
5.      Perkembangan Arsitektur.
Sebagai ibukota kerajaan, Damaskus menjadi pusat pembangunan yang dinomer satukan oleh Khalifah. Damaskus yang dulunya adalah ibu kota kerajaan Romawi Timur sebelum Islam dating telah berdiri bangunan yang indah. Namun pada masa dinsati Bani Umayyah, kota tersebut dibangun kembali dengan memadukan bangunan yang bernuansa Persia, Romawi dan Arab yang semua pembangunan tersebut bernilaikan Islami.
Selain bangunan-bangunan yang indah dan bernilai seni, pada masa Khalifah Umayyah juga dibangun “Istana Hijau” di Miyata. Sebagai symbol kegamaan, bangunan yang paling menonjol dari bangunan lain adalah terletak pada tempat ibadahnya, yaitu masjid. Masjid yang secara umum digunakan sebagai tempat ibadah menjadi semakin luas maknanya. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi sentral bagi pembesar untuk dijadikan sebagai ruang pertemuan, urusan politik serta tempat sarana belajar mengajar.
6.      Perdagangan
Tidak dipungkiri bahwa semakin luasnya daerah kekuasaan Islam melahirkan kemakmuran di segala bidang. Perdangan juga menuai banyak kemajuan setelah didirikan armada laut yang semakin memudahkan jalur perdagangan selain melewati jalur darat. Jalur darat yang merupakan jalur perdagangan ke Tiongkok memperlancar dagangan sutrea, keramik, obat-obatan dan wewangian. Sedangkan jalur laut lebih kepada pencarian rempah-rempah, tambang diantranya lohgam mulia dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian, Bashrah yang merupakan sebuah Ibukota menjadi pusat perdagangan yang sangat maju. Meningkatnya perdagangan ini menjadikan popularitas dinasti Umayyah semakin tinggi dan kemakmuranj semakin terjamin.
7.      Kerajinan
Selain majunya peradaban di bidang arsitektur, karya seni atau kerajinan juga mengalami peningkatan. Pada masa pemerintahan dinasti Umayyah pula lahir pembuatan border atau disebut dengan Tiraz. Ini adalah semacam tanda resmi yang dibubuhkan dalam setiap pakaian Khalifah dan semua pembesarnya. Tiraz tersebut memang salah satu tradisi Kristen, tetapi oleh Khalifah menggantinya dengan kalimah “La Ilaha Illa Allah” sebagai symbol keagamaan mereka.masa ini terjadi pada masa kekhalifahan Abdul Malik yang kemudian ia mendirikan semacam pabrik kain beserta Tiraz tersebut guna memperlancar idenya tersebut.
Selain mendirikan pbarik kain dan pembuatan Tiraz, pada masa ini pula karya seni lain muncul, yaitu seni lukis. Memang sejak kekhalifahan Umayyah karya seni yang satu ini sudah mendapat perhatian khusus dan sudah diterapkan dalam menghiasi masjid-masjid bangunannya. Namun, pada masa khalifah al-Walid I, lukisan tidak hanya di masjid atu lainnya tetapi juga di dalam istana. Lukisan berbagai macam binatang diimplementasikan pertama kali juga oleh khalifah al-Walid I yang dimodifikasi secara Islami dan berhasil menarik perhatian bangsa luar, termasuk Eropa.[20]

Kesimpulan
Dari paparan makalah tentang sejarah peradaban Islam pada masa Bani Ummayyah di Timur ini, dapat diambil beberapa natijah sebagai berikut :
 Peradaban Islam dibangun di atas pondasi tauhid, yang telah dirintis oleh Nabi Muhammad sebagai pelopor yang mendobrak peradaban manusia menjadi sebuah ummah (masyarakat, bangsa) yang baru. Politik dan kekuasaan dalam membangun peradaban harus sesuai dengan tujuan Tuhan dalam menempatkan manusia di bumi sebagaikhalifah (pemimpin, penguasa, pengelola) bumi untuk mewujudkan peradaban yang berorientasi dan bervisi surga.
 Terlepas dari konflik yang terjadi pada masanya, Bani Umayyah telah berhasil meletakkan sebuah periodisasi Islam yang baru dalam peradaban dunia, memberikan pengaruh sangat besar pada wilayah-wilayah yang dikuasaianya, baik pengaruh peradaban secara fisik maupun secara budaya, sosial dan agama.














Daftar Pustaka
Abdurrahman, Dudung. 2004. Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: Lesfi.
al-Azizi, Abdul Syukur. 2014.  Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap Jogjakarta: Saufa.
Amin, Ahmad. 1965. Fajr al-Islam, Kairo: Maktabah al-Nahdah.
Hassan, Hassan Ibrahim. 1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj. Jahdan Ibnu Humam Jogjakarta: Kota Kembang.
Hitti, Philip K. 2013. History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta,
Katsir, Ibnu. 2012. Al Bidayah wa An-Nihayah, Jilid XI, terj. Amir Hamzah dan Misbah Jakarta: Pustaka Azzam.
Karim, M. Abdul. 2006.  Islam di Sia Tengah, Yogyakarta: Bagaskara
Mufrodi, Ali. 2006. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Nasution, Harun. 1971. Teologi Islam Aliran-Aliran Perbandingan, Jakarta: UI Press.
Sulaiman, Rusydi. 2015. Pengantar Metodologi Studi Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Sunanto, Musyrifah. 2014. Sejarah Islam Klasik, Perkembangan Ilmu Pengetahuan Klasik, Jakarta: Prenada Media.
Syalabi, A. 1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam II, Jakarta: Pustaka al-Husna.



[1] Rusydi Sulaiman, Pengantar Metodologi Studi Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2015), hal. 242
[2]  Ibid, hal. 248
[3] Muawiyyah adalah dari Abu Sufyan, memerintah dengan pedang. Dalam dirinya terdapat gabungan sifat-sifat seorang penguasa, politikus dan administrator. Muawiyyah adalah seorang peneliti sifat manusia yang tekun dan memiliki wawasan yang tajam tentang pikiran manusia. Dia berhasil memanfaatkan para pemimpin, administrator dan politikus yang paling ahli pada waktu itu. Sebelum dinobatkan menjadi Khalifah pertama dinasti Umayyah, ia telah menjabat selama duapuluh tahun sebagai Gubernur Syam. Maka inilah alasan bila pengaruh politiknya sangat mengakar di wilayah tersebut, sehingga kemudian meilikih Damaskus sebagai ibukota Khilafah Bani Umayyah. Lihat Rusydi Sulaiman, Pengantar Metodologi Studi Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2015), hal. 253
[4] Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An-Nihayah, terj. Amir Hamzah dan Misbah (Jakarta: Pustaka Azzam, 2012, Jilid XI), hal, 401
[5] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 69
[6] M. Abdul Karim, Islam di Sia Tengah, (Yogyakarta: Bagaskara, 2006), hal. 12
[7] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan kebudayaan Arab, hal. 70-71
[8] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam II,( Jakarta: Pustaka al-Husna, 1989), hal 124-139
[9] Abdul Syukur al-Azizi, Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap (Jogjakarta: Saufa, 2014), hal. 158
[10] Ibid, hal. 158
[11] Philip K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2013), h. 280
[12] Ibid, hal. 281
[13]Hassan Ibreahim Hassan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, terj. Jahdan Ibnu Humam (Jogjakarta: Kota Kembang, 1989), hal. 63
[14] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, Perkembangan Ilmu Pengetahuan Klasik, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hal. 38
[15] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1971), hal. 38
[16] Musyrifah Sunanto, hal. 40
[17] Musyrifah Sunanto, hal. 41-42
[18] Ahmad Amin, Fajr al-Islam, (Kairo: Maktabah al-Nahdah, 1965), hal. 200
[19] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: Lesfi, 2004), hal. 76
[20] Dudung Abdurrahman,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda